Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 20 April 2015

Kumpulan puisi pahlawan terbaru

SATU MIMPI SATU BARISAN
Oleh Wijil Tukul

Di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

Di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

Di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

Di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

Di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

Di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

Tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan

Bandung 21 Mei 1992

Anak-Anak Tanah – oleh Clarissa Diantha Azzahra

Bila tanah membusung
Kalau langit merendah
Andai waktu ‘kan remuk
Andai bumi ‘kan kantuk
Jika abir merobek mata
Jika bedil dihunuskan ke dada
Kalau zamrud dilelang tawa
Bila pukat hidup dimana-mana
Kami masih sanggup satu, dua melangkah
Walau raga hanyalah kumpulan anak tanah
Yang tak kuasa hidup di tengah wabah
Yang tak mampu berdiri di atas yang rabah
Bila awan merenung
Kalau ngengat hinggap di kubur
Jika tikus tanah jadi teladan
Jika ular derik sangat sepadan
Andai budak tak kenal bantu
Andai raja tak kenal ratu
Kalau ayah lupa jalan kembali
Bila ibu menutup mata esok hari
Kami masih mampu ucap tiga, empat kalimat do’a
Walau jiwa hanya anak-anak tanah
Yang meilhat gurat busuk di titik jantung malaikatnya
Yang pura-pura tuli saat jagat menegurnya
Yang mengutuk bagai satire dalam mulutnya
Kami ialah kumpulan orang tanah,
Yang ingin membaur dengan tanah,
Yang ingin dihidupkan kembali ‘tuk berjuang
Bagai anak-anak tanah
Anak-Anak Tanah – oleh Clarissa Diantha Azzahra
Depok

DIBALIK SERUAN PAHLAWAN
Oleh Zshara Aurora

Kabut,
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral

Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi..

Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi.. 

Ialah tikus – tikus nakal….
Yang menyengsarakan rakyat
Membelenggu kesengsaraan
Yang teramatlah dalam
Kau mengincar,
Harta rakyat
Yang sangat berharga,
Bagi mereka
Satu – satunya harta
Satu – satunya harapan
Satu – satunya rupiah
Yang mereka kumpulkan,
Dari hasil jerit payahnya
Kenapa kau merampasnya?
Kenapa kau memakannya?
Apakah kau tahu?
Apakah kau tak memiliki nurani?
Oh….tikus nakal
Ku mohon padamu
Janganlah merampasnya!
Janganlah memakannya!
Rakyatlah yang menjadi korban
Rakyatlah yang menanggungnya
Rakyatlah yang sengsara
Rakyatlah yang menderita
Koruptor – oleh Iqbal Aziz
Purwokerto

PEMUDA UNTUK PERUBAHAN
Puisi Ananda Rezky Wibowo

Indonesia Menangis
bahkan tercabik
dengan hebatnya penguasanya korupsi
tak peduli rakyatnya mengemis

Kesejahteraan tinggallah angan
keadilan hanyalah khayal
kemerdekaan telah terjajah
yang tersisah hanya kebodohan

Indonesiaku, Indonesia kalian
jangan hanya tinggal diam kawan
mari bersatu ambil peranan

GERILYA
Oleh : W S Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya


PERJUANGAN TAK PASTI
Puisi Rhindy Marfiyanti

Teriknya mentari menyentuh kalbu
Tak terasa angin merambah rasa
Hanya terasa peluh merambah jiwa

Ku coba melangkah ke sana
Tak jua ku temukan suatu hal
Ku langkahkan kembali kakiku
Tapi ku masih tak temukan sesuatu itu

Saat ku berhenti tuk bersandar
Ku memohon dan berserah
Apa aku di beri sebuah peluang
Tuk bisa hidup nyaman

Oh tuhan…….
Perjuangan ini sungguh meresahkan
Perjuangan ini sungguh membingungkan
Perjuangan ini tak menemukan jalan

Kaki tak kuat untuk melangkah
Jiwa tak kuat untuk bangun
Hati tak sanggup untuk merasa
Otak tak bisa untuk berfikir

Hidupku……….
Kenapa kau ditakdirkan seperti ini
Hanya berharap dari perjuangan yang tak pasti
Hidup ini terasa sangat membingungkan

Ayah

kau bagai si jago di pagi hari
Ragamu begitu kuat ayah
Semangat mu membakar jiwa
cucuran keringarmu selalu ku lihat
kau begitu lelah, ayah
kau bagai si jago di pagi hari yang selalu berkokok
kau mengais materi dengan caramu
sang anak yang kau selalu di banggakan
untuk cucuran keringatmu
untuk lelahmu
tak cukup ku balas dengan kata terima kasih
Sang jago – oleh Deri Hariyandiy
Tangerang 17 april 2015


ATAS KEMERDEKAAN
Oleh : Supardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala

terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari  yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah



DIBALIK 98

Hari ini sembilan tahun lalu
Telah terbaring puluhan mahasiswa
Rekan kami, sahabat kami, saudara kami
Yang berjuang untuk satu kata reformasi

Kini semua membisu tak peduli
Ku peringati saat itu dengan puisi dan doa
Semoga engkau yang telah berkorban
Di terima disisiNya


MENATAP MERAH PUTIH

Menatap merah putih
melambai dan menari – nari di angkasa

kibarannya telah banyak menelan korban
nyawa dan harta benda

berkibarnya  merah putih
yang menjulang tinggi di angkasa

selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya
dan tetesan air mata
dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan
untuk mengibarkan merah putih
harus diawali dengan pertumpahan darah
pejuang yang tak pernah merasa lelah
untuk berteriak : Merdeka!

menatap
merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka
membinasakan penidas dari negeri tercinta
indonesia

menatap
merah putih adalah bergolaknya darah
demi membela kebenaran dan azasi manusia
menumpas segala penjajahan
di atas bumi pertiwi

menatap
merah putih adalah kebebasan
yang musti dijaga dan dibela
kibarannya di angkasa raya

berkibarlah terus merah putihku
dalam kemenangan dan kedamaian

PENGORBANAN
Puisi Siti Halimah

Mengucur deras keringat
Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan, jauh ntah kemana ?

Bagaikan pungguk merindukan rembulan,
Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan

Pagi yang menjadi malam,
dan Bulan yang menjadi Tahun.

Sekian lama telah menanti,
Dirinya tak jua terlepas.

Andai diriku sang Ksatria,
Aku sudah pasti menyelamatkannya.

Namun semua itu hanya mimpi.
Dirinyalah yang harus berusaha 
untuk membawa dirinya pergi dari kegelapan abadi.


KRAWANG-BEKASI


Kami yang kini terbaring antara Krawang-bekasi tidak bisa teriak
Kami yang kini terbaring antara Krawng-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka"
dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju
dan mengedap hati.?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dara rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kami mati muda, yag tinggal tulang diliputi debu.
Kenang,Kenanglah kami,
Kami sufah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, Belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaan mu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atas jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
Kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
kaulah sekarang yag berkata

Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, Kenanglah kami teruskan
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung syahrir

Kami sekarang mayat
Berikankami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara krawang-Bekasi 


Untuk Pahlawan Negeriku

Untuk negeriku…
Hancur lebir tulang belulangku
Berlumur darah sekujur tubuh
Bermandi keringat penyejuk hati
Kurela demi tanah air negeriku
Sangsaka merah berani
Putih suci
Melambai-lambai ditiup angin
Air mata bercucuran, menganjungkan doa
untuk pahlawan negeri
Berpijak berdebu pasir
Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagad raya
Hanya jasamu bisa kulihat
Hanya jasamu bisa kukenang
Tubuhmu hancur hilang entah kemana
Demi darahmu ….
Demi tulangmu ..

HARI KEMERDEKAAN

Akhirnya tak terlawan olehku
tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
ke hati kita semua
bendera-bendera dan bendera-bendera
bendera kebangsaanku
aku menyerah kepada kebanggan lembut
tergenggam satu hal dan kukenal

tanah dimana kuberpijak berderak
awan bertebaran saling memburu
angin meniupkan kehangatan bertanah air
semat getir yang menikam berkali
makin samar
mencapai puncak kepecahnya bunga api
pecahnya kehidupan kegirangan

menjelang subuh aku sendiri
jauh dari tumpahan keriangan dilembah
memandangi tepian laut
tetapi aku menggengam yang lebih berharga
dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
makin bercahaya makin bercahaya
dan fajar mulai kemerahan.


PAHLAWAN



Hari pahawan kami,
Kau selalu melindungi kami
kau telah berjuang untuk kami
dan seluruh warga-warga dan teman-teman kami
juga negara demi kami
Seandainya itu semua
Bukan dari pengorbanan yang rela
dan semangat para pahlawan kita
maka negara ini akan hancur selamanya
Jadi, terimalah terimakasih kami semua
Ibu Kartini
Dahulu wanita selalu diinjak-injak
tetapi sekarang tidak lagi
Karena dahulu Ibu Kartini berjuang keras
untuk menyelamatkan kaum wanita
Pengorbanan
Detik-detik penuh dengan ancaman
ketika raga di pucuk darah penghabisan
mata tombak yang selalu mengintai
Darah mengucur deras bagai badai
Tak kenal senjata, tak kenal mati
Hanya kaulah pahlawan sejati
Senyum suci
senyum suci tlah kau raih
terima kasih pahlawan suci
semangat juang tinggi tah kau raih
Indonesiaku gemilang kini

PAHLAWAN KU
Puisi Rezha Hidayat

Ohh........ Pahlawan ku
Bagaimana ku bisa
Membalas jasa-jasa mu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi

Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumurkan darah
Haruskah aku tertusuk pisau belati penjajah
Aku tak tahu cara untuk membalas jasa mu

Engkau rela mengorbankan nyawa mu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin   
Tak bisa kau raih dengan tangan mu sendiri
Ohh......... pahlawan ku Engkau lah Bunga Bangsa

UNTUK IBU PERTIWI



Bukit-bukit di negeriku kini tenggelam
oleh darah dan air mata
Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anaknya yang merantau?
Untuk masyarakatnya yang sengsara?
Apa pula gunanya keluh kesah
seorang penyair yang sedang tidak dirumah?
Seandainya rakyatku mati dalam pemberontakan 
menuntut nasibnya
Aku akan berkata "Mati dalam perjuangan lebih mulia 
dari hidup dalam penindasan"
tapi rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka
dan penderitaan adalah tanah air mereka

Ingatlah saudaraku
bahwa syiling yang kau jatuhkan
ke telapak tangan yang menghibur di hadapanmu
adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan
kekayaan hatimu dengan cinta di hati Tuhan

PAHLAWAN PENDIDIKAN
Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk semua pejuang pendidikan
Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah
Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


MERDEKA



Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
menjadi sumsum dan darah
seharian kukunyah-kumamah

Sedang meradang
segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi kini
hidupku terlalu tenang
selama tidak antara badai
kalah menang

Ah! jiwa yang menggapai-gapai
mengapa kalau beranjak dari sini 
kucoba dalam mati

(Khairil Anwar)



PENGIBAR BENDERA



Sejak ibukota dihamparan jalan raya
mata lelah berkusam wajah
ringkuk ini badan bergumam sejalan

tidak ada gundah tersirat kini
maju jalan mobil orang berdasi
lihat kibaran benderaku ini

merah putih bukan kainku
adalah jiwa adalah raga
sekali-kali jangan kau ubah lain lagi

biar bukan istana tempatku
biar jalur kereta naunganku
biar nasi bungkus dan tempe bacem

biar yang peduli atau tidak ambil duli
tiada butuh aku dikasihani

getar gemetar tubuhku
ah! persetan!
kibaran ini biar kujalani sampai mati.


INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU
Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?

Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!



NEGERI INI


Saat sarafku dipengapkan meja 1/2 biro
kupahat hatiku itu lagi
pada prasasti tugu negreriku
agar para pahlawan negeri ini
tak lagi keluhkan sesal
harus lahir di negeri ini
Sukarno-sukarno
reformasi
harus berkembang di negriini
Sukarno-sukarno bangkit di negeri ini
Suharto-suharto reformasi
agar Dipenogoro tak lagi keluhkan java
agar wolter menginsidi tak tangisi celebes
Agar Patimura tak sia-siakan Maluku
agar Indonesia-ku
tak lagi tangisanku


INDONESIAKU KINI
Puisi Awaliya Nur Ramadhana

Negaraku cinta Indonesia  
Nasibmu kini menderita  
Rakyatmu kini sengsara  
Pemimpin yang tidak bijaksana  
Apakah pantas memimpin negara   
yang aman sentosa

Oh Indonesia tumpah darahku  
Apakah belum terbit,  
Seorang pemimpin yang kita cari 
Apakah rasa kepemimpinan itu   
masih disimpan di nurani
Tertinggal di lubuk hati  
Tak dibawa sekarang ini  

Rakyat membutuhkanmu
Seorang Khalifatur Rasyidin 
Yang setia dalam memimpin
Menyantuni fakir miskin
Mengasihani anak yatim

Kami mengharapkan pemimpin  
yang soleh dan solehah
Pengganti tugas Rasulullah
Sebagai seorang pemimpin ummah
Yang bersifat Siddiq dan Fatanah

Andaikan kutemukan
Seorang pemimpin dunia
Seorang pemimpin agama
Seorang pemimpin  Indonesia

Hanya Allah Yang Mengetahuinya


NEGERI IMPIAN
Puisi Efoel Lintang

rembulan terbit dari barat, seperti wajahmu yang bulat
seakan menyiratkan yang tak tersurat
dibalik kharisma kemilaunya cahaya yang semburat
menghipnotis hati biar terpikat
lemah gemulai gerakanmu
iringi lagu rindu yang mendayu
sendu tatap matamu  menghiba pelepas rindu
tujuh purnama telah kau tunggu
tujuh negeri telah kau lewati
masih belum kau temui apa yang kau cari
diantara bimbangnya hati
apa sebenarnya yang kau cari
tanpa jawab yang kau dapati
bertambah galaulah hati
melihat nasib ini negeri
anak kurang gizi
bergelimpangan bayi mati
ibu-ibu tak punya asi
menggilanya aborsi
merajalelanya multilasi
ditingkahi bobroknya birokrasi ini negeri

NEGERI INI

Saat sarafku dipengapkan meja 1/2 biro
Kupahat hatiku itu lagi
Pada prasasti tugu negriku
Agar para pahlawan negri ini

Tak lagi keluhkan sesal
Harus lahir di negri ini
Sudirman-sudirman reformasi
Harus berkembang di negri ini
Sukarno-sukarno reformasi
Harus bangkit di negri ini
Suharto-suharto reformasi

Agar diponegoro tak lagi keluhkan java
Agar wolter monginsidi tak tangisi celebes
Agar Patimura tak sia-siakan maluku
Agar Indonesiaku
Tak lagi tangisanku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About